Banjarbaru, 29 November 2025 — Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat kembali menjadi panggung penting bagi penguatan agenda iklim nasional melalui penyelenggaraan kuliah umum tahunan. Pada acara kali ini, kursus pembaruan wawasan kehutanan tingkat nasional yang dikemas dalam kegiatan Forestry Update Course (FUCo), dihadiri langsung oleh Menteri  Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Bapak Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut., M.P. yang sekaligus menyampaikan arahan strategis terkait transisi dari komitmen iklim menuju implementasi di lapangan.

        

Dalam paparannya, Menteri Lingkungan Hidup menegaskan urgensi pemulihan ekosistem gambut sebagai langkah mitigasi paling berdampak bagi target iklim Indonesia. Indonesia, menurutnya, memiliki 866 unit Kawasan Hidrologi Gambut (KHG) dengan total luasan 24,29 juta hektar, dimana 13,3 juta hektar di antaranya adalah lahan gambut tropis dengan kedalaman hingga lebih dari 12 meter dan cadangan karbon mencapai 57 gigaton — lebih tinggi dibanding hutan mineral. Ia juga mengingatkan bahwa 3,3 juta hektar gambut saat ini dalam kondisi rusak, sebagian besar berada di kawasan hutan sebesar 1,8 juta hektar dan 1,5 juta hektar berada di Areal Penggunaan Lain (APL). Net Sink FOLU 2030 menjadi landasan percepatan pemulihan gambut yang selaras dengan Enhanced NDC 2030.

     

Menteri juga menggarisbawahi pentingnya pendekatan 3R (Rewetting, Revegetation, Revitalization) berbasis pelibatan masyarakat desa sekitar konsesi dalam model Desa Mandiri Peduli Gambut (DMPG) sebagai strategi pengendalian kebakaran dan penguatan ekonomi lokal. Di luar forum formal COP30, Indonesia juga tidak menunggu konsensus global untuk bergerak cepat, salah satunya melalui aktivasi perdagangan karbon internasional berbasis teknologi dan pembentukan koalisi gambut tropis lintas negara.

   

Sementara itu, menurut panitia penyelenggara, FOReTIKA, rangkaian kegiatan FUCo 2025 disusun sebagai respon strategis memperkuat kepemimpinan ilmiah dan capacity building generasi kehutanan Indonesia, khususnya mahasiswa dan akademisi, agar mampu berkontribusi pada riset terapan dan solusi berbasis alam (NbS).

   

Acara yang berlangsung sejak pukul 09.30 WITA itu mencakup sesi registrasi, sambutan rektor, pemaparan materi kuliah umum oleh Menteri Lingkungan Hidup, hingga forum diskusi interaktif bersama mahasiswa dan dosen lintas fakultas. Menteri berharap akselerasi pemulihan gambut dan implementasi kebijakan iklim dapat terus diperkuat melalui sinergi kampus, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat.

   

Pada saat sesi tanya jawab, seorang Mahasiswi Fakultas Kehutanan ULM (Helda Wini Katrian) dengan pertanyaan terbaik dan mendalam, mendapatkan apresiasi dari Menteri Lingkungan Hidup berupa Sepeda.

     

Menteri menutup sesi dengan pernyataan kuat: “Aksi iklim harus memberi manfaat langsung bagi lanskap ekologis dan ekonomi desa. Gambut pulih, iklim terlindungi, masyarakat sejahtera.”

     

[sumber : WNH | Foto : HFZ]